Masuk

Ingat Saya

Menghidupkan Kembali Ronda Kampung dan Tradisi Gotong Royong untuk Menangkal Masuknya Ideologi Terorisme

 

Menghidupkan Kembali Ronda Kampung dan Tradisi Gotong Royong untuk Menangkal Masuknya Ideologi Terorisme

Oleh: Tri Wahyuni

Dulu, nenek moyang kita memiliki tradisi budaya yang sangat arif. Salah satunya gotong royong. Tradisi gotong royong ini bermacam-macam bentuknya. Bisa mendirikan rumah, membangun jembatan, membangun sekolah serta fasilitas yang menyangkut publik. Masyarakat kita dengan adanya gotong royong menjadi saling kenal, akrab dan memperkuat tali persaudaraan yang harmonis.

Dengan gotong royong diantara masyarakat bisa saling sharing, saling mengenal, sehingga potensi apapun yang mengarah kepada tindakan kekerasan atau teror bisa ditangkal sedini mungkin. Bagaimana penyusup bisa masuk, kalau di kampung itu ronda, dan pertemuan-pertemuan antar warga sangat hidup, tentu sedikit kemungkinan teroris untuk bisa masuk menyusup.

Langkah ini lebih bersifat antisipatif, menanggulangi sebelum terjadi tentu lebih baik daripada bertindak sesudah ada kejadian. Kita bisa menjalankan progam desa yang bagus serta konstruktif, untuk membangun desa yang berkemajuan dan berperadaban.

Tetapi era modern semua itu sekarang tinggal sejarah. Gotong royong, ronda malam, sudah semakin terkikis bahkan hilang dari tengah masyarakat kita. Kehidupan yang serba individualis, mementingkan pribadi dan cenderung acuh sebenarnya memberikan angin segar bagi para pelau teror untuk menyusup serta menyebarkan ideologi kekerasan yang mereka yakini sebagai jalan jihad menuju surgawi Allah. mari kita sadarkan, masyarakat kita, kita kembali kepada tradisi budaya nenek moyang kita yang sangat luhur itu. Sehingga kombinasi kemodernan dan tradisi budaya bisa terwujud, untuk menangkal penyebaran ideologi terorisme.#AKSIDUTADAMAI#